![]()
PENDAHULUAN
A LATAR BELAKANG
Sebagai sebuah disiplin ilmu, ilmu pendidikan islam tergolong relatif muda usianya, dibandingkan dengan disiplin ilmu agama islam lainya.seperti tafsir, hadis, fiqih, ilmu kalam, dan lain-lain. Ilmu merupakan sebuah anugrah yang diturunkan-Nya kepada makhluknya, dari hal tersebut ilmu dapat membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya.dengan ilmu pulalah manusia dapat bersaing dibidang keilmuannya masing-masing. Alqur’an merupakan sumber utama dari segala ilmu, tergantung dari manusia itu sendiri sejauh mana dapat mengetahu dan mengkaji untuk memperoleh sebuah ilm Pada era ilmu
Pengetahuan dan teknologi sekarang ini, pendidikan islam dituntut untuk melakukan antisipasi baik dalam dataran pemikiran atau konsep maupun dataran tindakan, dalam sistam pendidikan islam masih dapat beberapa hal yang perlu dibenahi khususnya yang berkaitan dengan problematika- problematika yang dihadapi oleh dunia pendidikan.
B RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep ilmu dalam al-qur’an?
2. Bagaimana hubungan ilmu dengan al-qur’an ?
3. Bagaimana Konsep Ilmu dalam Al-Qur’an persfektif Ontologis?
4. Bagaimana Konsep Ilmu dalam Al-Qur’an persfektif Epistimologis?
5. Bagaimana Konsep Ilmu dalam Al-Qur’an persfektif Aksiologis?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Ilmu Dalam Al-Qur’an
Persepektif islam dalam ilmu, dapat diketahuidari wahyu pertama.dari wahyu tersebut tersirat bahwa mu,jizat islam yang paling utamaadalah ilmu. Imam al-bukhari menyebutkanbahwa kewajiban seseorang muslim sebelum beramal adalah ilmu “al-ilmu qobla al-Qoul wa al-‘Amal”. Hal inilah yang kemudian tersirat dalam surah al-‘alaq ayat pertama “iqra’ bismi rabbika al-ladzi khalaq” bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan. Sebagai wahyu pertama yang diturunkan, sangat jelas bahwa kewajiban pertama dan paling utama umat islam sebelumberkata dan beramal dan berkata adalah berilmu (iqra’) [1]kata ilmu dari segi bahasa manusia ituberarti “kejelasan”, karena itu kalimat yang terbentuk dari kata ‘alima, ya’lamumempunyai arti kejelasan, kata ‘alima yang bebbeda dengan ‘arafa,ya’rifu (mengetahui), ‘arif (yang mengetahui) dan ma’rifahi (pengetahuan).[2]
Allah SWT, tidak dinamakan a’rif, tetapi alim, yang berkata kerja ya’lam (dia mengetahui), dan biasanyaAl-Qur’an menggunakan hal hal itu untuk Allah dalam hal hal yang diketahuinya, walaupun gaib, tersembunyi atau dirahasiakan.[3] Allah mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui manusia itujelas maupun tidak jelas, sementara manusia hanya mengetahui segala sesuatu keistimewaan yang bersifat jelas. Jadi ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang segala hal yang dapat diperoleh secara bertahap
B. Hubungan Ilmu dengan Al-Qur’an
Dalam pandangan islam, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul dari makhluk-mahluk yang lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Manusia menurut Al-qur’an memiliki potensi meraih illmu dan mengembangkannya sehingga terdapat ayat-ayat dan hadits yang memerintahkan manusia mencari ilmu.[4]
Berbicara tentang ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan al-qur’an, menurut Ahmad munir ada persepsi bahwa al-qur’an itu adalah kitab ilmu pengetahuan. Persepsi ini muncul atas dasar isyarat isyarat al-qur’an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Dari isyarat tersebut sebagai para ahli berupaya membuktikannya dan ternyata mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang di isyaratkannya, sehingga semakin memperkuat persepsi tersebut.[5]
Jadi memang benar bahwa al-qur’an itu adlah kitab ilmu pengetahuan karena didalamnya di jelaskan apa saja yang menyangkut imu pengetahuan dalam berbagai bidang baik dibidang pendidikan, kedokteran, hukum dan lain-lain
C. Konsep Ilmu dalam Al-Qur’an persfektif Ontologis
Ontologis meliputi permasalahan apa hakekat ilmu itu, apa hakekat kebenaran dan kenyataan dan pengetahuan yang tidak terlepas dari persepei kita tenttang apa dan bagaimana. Menurut imam Ghazali mengemukakan bahwa ilmu melalui pendekatan ontologi, membicarakan sifat-sifat dasar dan aneka ragam ilmu itu sendiri. Selanjutnya membagi ilmu menjadi dua macam yaitu fardhu ain dan fardhu kifayah.[6]
Dalam rangka mendapatkan pengetahuan maka ilmu membuat beberapa andaian(asumsi) mengenai objek objek tersebut. Apa yang di sebut asumsi pada dasarnya adalah suatu proposisi yang dibuat dalam rangka menarikkesimpulan darinya. Dalam kaitanya dengan asumsi ini dapatdijelaskan lebih lanjut bahwa ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai objek itu yaitu:
1. Menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain dalam bentuk, struktur, sifat dan sebagainya.
2. Menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.
3. Menganggap bahwa tiap gajala bukan meripakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan saja.
Hal ini berarti bahwa ilmu itu adalah nyata keberadaannya, dapat diperoleh dan dikembangkan. Hal ini dapat di buktikan melalui timbulnya berbagai teknologi dan dapat dikatakan bahwa ilmuitu adalah proses mental yang bersifat objektif
D. Konsep Ilmu dalam Al-Qur’an persfektif Epistimologis
Epistimologis yaitu pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperolah. Apakah dari akal pikiran atau dari pengalaman panca indra. Epitimologis meliputi berbagi saran dan tata cara menggunakan saran dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran dan kenyataan. Dengan kata lain epistimologi merupakan sebuah cara untuk mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan.[7]
Dalam kaitannya dalam sumber pengetahuan , al-qur’an telah menunjukkan empat sumber pengetahuan untuk memperoleh ilmu, yaitu:[8]
1. Al-qur’an dan as-sunah.dalam hal ini , al-qur’an sering mengingatkan manusia agar memikirkan ayat-ayat Allah dan mengambil pelajaran darinya serta mengingatkan agar menjadikan rasul sebagai contoh dalam kehidupan.
2. Alam semesta. Daalam hal ini al qur’an, menyeru manusia untuk memikirkan keajaiban ciptaan allah, serta hubungan manusia dengan sekitarnya.
3. Diri manusia.
4. Sejarah manusia.
Menurut pandangan al qur’an sebagaimana disyari’atkan oleh wahyu pertama, bahwa ilmu terdiri dari dua macam yaitu ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia dinamakan ilmu laduni, dan ilmu yang diperoleh karena usaha manusia dinamakan ilmu kashbi. Dalam al qur’an menjelaskan bahwa manusia hanya diberi sedikit ilmu pengetahuan hal ini ter ukti terdapat hal-hal yang ada tetapi tidak diketahui melalui upaya manusia itu sendiri.[9]
Apabila diperhatikan wahyu pertama akan diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan pengembangan ilmu. Pertama, allah mengajarkan dengan pena apa yang telah diketahui manusia sebelumnya (‘allama bil qolam). Kedua, Allah mengajar manusia (tanpa pena) apa yang belum diketahuinya (‘allam al-insana ma lam ya’lam). Cara pertama adalah mengajar dengan alat atau dasar usaha manusia dan cara kedua dengan mengajar tanpa alat atau tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda keduanya berasal dari satu sumber yaitu Allah SWT. Menurut ilmuwan muslim, objek ilmu mencakup alam materi dan non materi, maka untuk meraih ilmu menggunakan tata cara dan ,yaitu pendengaran, penglihatan, akal dan hati.
E. Konsep Ilmu Dalam Al Qur’an Perspektif Aksiologis
Aksiologi yaitu suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai. Termasuk nilai-nilai tinggi dari tuhan misalnya, nilai moral, nilai agama, nilai keindahan.[10] Dalam pembahasan ini akan diangkat masalah kegunaan dan nilai ilmu pengetahuan.
Dalam penelitian islam dapat dibuktikan bahwa perintah al qur’an dan hadis tentang menuntut ilmu tidaklah terbatas pada ajaran-ajaran syari’ah teapi juga mencakup setiap ilmu yang berguna bagi manusia. Untuk melakukan hal-hal itu harus ditunjukkan dan didefinisikan kewajiban dan tujuan seorang muslim dalam kehidupan di dunia. Allah melalui kitab-Nya al qur’an menegaskan bahwa semuanya akan kembali kepada penciptanya. Tujuan penciptaan jin dan manusia adalah agar menyembah dan mendekatkan diri kepa Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, tujuan manusia yang utama adalah mendekatkan kepada Allah dan memperoleh ridho-Nya. Segala sesuatu yang mendekatkan kepada Tuhan dan petunujuk-petunjuk kepada arah arah tersebut adalah terpuji.[11]
Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa ilmu merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia yang berguna sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sehingga memproleh ridho-Nya.
F. Pola Mencari Ilmu Dalam Al Qur’an perspektif Ontologi, Epistemologi, Aksiologi.
Pola mencari ilmu dal al qur’an perspektif ontology, epsitemologi dan aksiologi. Terdapat dalam
1. Artinya ; bacalah dengan menyebut nama tuhann-Mu yang menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan tuhanmulah yang Maha Pemurah.
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantara alam.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
KESIMPULAN
1. ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang segala hal yang dapat diperoleh secara bertahap.
2. Jadi memang benar bahwa al-qur’an itu adlah kitab ilmu pengetahuan karena didalamnya di jelaskan apa saja yang menyangkut imu pengetahuan dalam berbagai bidang baik dibidang pendidikan, kedokteran, hukum dan lain-lain.
3. Menurut imam Ghazali mengemukakan bahwa ilmu melalui pendekatan ontologi, membicarakan sifat-sifat dasar dan aneka ragam ilmu itu sendiri. Selanjutnya membagi ilmu menjadi dua macam yaitu fardhu ain dan fardhu kifayah.
4. Epitimologis meliputi berbagi saran dan tata cara menggunakan saran dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran dan kenyataan. Dengan kata lain epistimologi merupakan sebuah cara untuk mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan.
5. Aksiologi yaitu suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai. Termasuk nilai-nilai tinggi dari tuhan misalnya, nilai moral, nilai agama, nilai keindahan. Dalam pembahasan ini akan diangkat masalah kegunaan dan nilai ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Mu’in,Abdul.Reformasi Filsafat Pendidikan Islam.Yogyakarta: pustaka pelajar fakultastarbiyah IAIN walisongo,1996
Munir, Ahmad.Tafsir Tarbawi.ponorogo:STAIN Press,2007
Muzayin,Arifin. filsafat pendidikan islam.
Basuki dan Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Ponorogo:STAIN Press,2007
Sihab,Quraisy. Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudu’i Atas Berbagai Persoalan Umat.Bandung: Mizan.1999
[1] Basuki dan Miftahul Ulum, pengantar ilmu pendidikan islam, (Ponorogo:STAIN Press,2007), h.27
[2] Ibid.
[3] QuraisySihabwawasanwawasan al-qur’an tafsir maudu’i atas berbagai persoalan umat,(Bandung: Mizan),h.435
[4] Basuki dan miftahul ulum, pengantar ilmu pendidikan islam,h.28
[5] Ahmad munir.tafsir tarbawi.(ponorogo:STAIN Press,2007),h.68
[6] Abdul mu’in.reformasifilsafat pendidikan islam.(Yogyakarta: pustaka pelajar fakultastarbiyah IAIN walisongo,1996),h.11
[7] Abdul Mu’in, reformulasi filsafat pendidikan islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 1996),H.69
[8] Arifin mujayyin , filsafat pendidikan islam (
[9] Basuki dan Miftahul Ulumn, pengantar ilmu pendidikan islam,h. 30
[10] Arifin muzayyin.filsafat pendidikan islam.(jskarta:PT.bumi aksara.2005),h.8
[11] Basuki dan Miftahul Ulum, pengantar ilmu pendidikan islam,h.31